Stockholm, 22 Maret 1999

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

TIDAK ADA SATUPUN PARTAI POLITIK DI INDONESIA YANG BERUSAHA UNTUK MEMBANGUN KEMBALI DAULAH ISLAM RASULULLAH.
Ahmad Sudirman
Modular Ink Technology Stockholm - SWEDIA.

 

Tanggapan untuk Saudara Firza N.E. (Jember, Indonesia).

Pada tanggal 6 Maret 1999 saudara Firza N.E. dari Jember Indonesia menyampaikan pertanyaan dan tanggapannya kepada saya dengan memakai subyek "Partai-partai dalam Islam". Dimana saudara Firza mempertanyakan "Nah, sementara ini, saya bagi seorang individu, jika diminta langsung mengubah dasar negara Pancasila/UUD'45 ini dengan Al-Qur'an atau yang sesuai dengan Daulah, tanpa kekuasaan tampaknya mustahil. Bagaimana menyikapi pemilu nantinya? Apakah ada partai yang di mata Islam layak untuk dipilih? Di antara partai-partai itu banyak sekali yang menurut saya pribadi, sedikit banyak membawa-bawa agama Islam, namun tampaknya tidak sebagai dasarnya. Entah sebagai apanya. Mungkin karena dangkalnya ilmu politik saya".
 
Memang, setelah saya memperhatikan dan mempelajari dari sekitar 48 partai yang berhasil lolos saringan untuk ikut dalam persaingan dalam rangka mencapai kekuasaan dalam Daulah Pancasila dengan UUD'45-nya, ternyata tidak ada satupun partai politik yang berusaha untuk membangun kembali Daulah Islam Rasulullah dengan Undang Undang Madinah-nya, yaitu suatu usaha untuk membangun satu masyarakat muslim dan non muslim didalam satu kekuasaan pemerintahan Islam dimana Allah yang berdaulat, yang menerapkan musyawarah dan menjalankan hukum-hukum Allah dengan adil dalam naungan Daulah Islam Rasulullah dengan Undang Undang Madinah-nya, yang berdasarkan akidah Islam yang tidak mengenal nasionalitas, kebangsaan, kesukuan dan ras dengan tujuan untuk beribadah dan bertakwa kepada Allah SWT".

Ini adalah suatu tanda bahwa, kaum muslimin yang hidup di Indonesia akan tetap berada dalam pengaruh dan cengkraman ideologi-ideologi non Islam, yang akibatnya cepat atau lambat nur Islam akan hilang dari bumi Indonesia, yang tinggal hanya buih-buih Islam saja.

Apapun alasannya adalah tidak dibenarkan bahwa Islam dicampur adukkan dengan ideologi-ideologi lainnya. Walaupun ada yang berusaha untuk menuju "...Baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofuur" (Saba: 15), tetapi karena dalam menuju kearah itu Islam telah dicampurkan adukkan dengan pancasila, maka suatu hal yang tidak mungkin tercapai tujuan yang disebut "Baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofuur"  (Negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun). Negeri yang baik adalah negeri yang baik menurut Allah SWT, bukan negeri yang baik menurut manusia dengan pancasila-nya.

Rasulullah tidak pernah mencontohkan penggabungan akidah Islam dengan pemahaman-pemahaman orang musyrik dan kafir dalam membangun Daulah Islam dengan Undang Undang Madinahnya.

Jadi bagaimana mungkin akan tercapai negeri yang "thoyyibatun wa rabbun ghofuur", apabila dalam usaha ke arah itu telah dicampur adukkan akidah Islam dengan pemahaman pancasila yang merupakan produk pemikiran manusia. Karena itu menurut saya, partai-partai politik di Indonesia sekarang yang mencantumkan dalam anggaran dasar-nya "Baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofuur", mereka itu adalah hidup dalam mimpi.

Sebenarnya kalau mereka menyadari bahwa Daulah Pancasila dengan UUD'45-nya telah gagal dibangun, apapun alasannya, karena kenyataannya sekarang sebagian besar tiang-tiang Negara Pancasila dengan UUD'45-nya ini telah runtuh.  Dan ini menurut saya adalah merupakan suatu pelajaran yang terbesar bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jalan keluarnya adalah kembali mencontoh apa yang telah dicontohkan dan dilakukan oleh Rasulullah dalam membangun Daulah Islam dengan Undang Undang Madinahnya.

Seperti yang telah saya tulis dalam tulisan "MELAHIRKAN FAKTA PERTAHANAN BERSAMA DIANTARA KELOMPOK-KELOMPOK MUSLIM DAN DIANTARA KELOMPOK-KELOMPOK NON MUSLIM YANG DIJIWAI OLEH UNDANG UNDANG MADINAH" yaitu, "Selama kaum muslimin masih percaya kepada Allah, Kitab-KitabNya dan Rasul-RasulNya, maka selama itu masih bisa diusahakan untuk bersatu dan melahirkan fakta perjanjian pertahanan untuk melahirkan Daulah Islamiyah, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah.

Karena menurut pemikiran saya yang menjadikan bumerang perpecahan diantara kaum muslimin adalah bukan karena masalah perbedaan kepercayaan kepada Allah, Kitab-KitabNya dan Rasul-RasulNya, melainkan karena adanya perbedaan pandangan, pikiran, metode, tujuan dalam masalah politik, kekuasaan, pemerintahan dan negara. Yang kesemua perbedaan-perbedaan tersebut bukanlah masalah yang sangat prinsipil, melainkan masalah-masalah yang masih bisa diselesaikan dengan jalan musyawarah dan tukar pikiran yang sehat serta penuh dengan kebijaksanaan.

Dengan dasar tersebut diatas, maka saya yakin bahwa pertentangan diantara kelompok-kelompok, organisasi-organisasi, partai-partai yang perjuangannya melibatkan Islam masih bisa diselamatkan dan diadakan dialog serta kerjasama yang baik untuk melahirkan fakta pertahanan bersama dalam rangka menuju Daulah Islamiyah yang akan menaungi kaum muslimin khususnya di Indonesia dan umumnya yang ada diseluruh dunia".

Terakhir tentang pertanyaan saudara Firza "Saya ingin tahu, bagaimana sistem kepartaian dalam Islam? Apakah Islam mengenal partai politik?..Juga, bagaimana sistem kepartaian di masa Rasulullah? Apakah dulu dikenal oposisi?"

Jawaban saya adalah pada jaman Rasulullah tidak ada partai politik yang ada adalah bani-bani atau kabilah-kabilah sebagaimana yang dicantumkan dalam Undang Undang Madinah.

Inilah tanggapan dan jawaban singkat saya untuk saudara Firza N.E.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se

-------

6 Maret 1999
firza@jember.wasantara.net.id
Firza N. E. menulis :

Partai-partai dalam Islam

Hello Ahmad,

Saya sangat tertarik membaca artikel-artikel dari antum, meskipun artikel itu bukan artikel lepas, namum menanggapi rekan-rekan lainnya.

Saya ingin tahu, bagaimana sistem kepartaian dalam Islam? Apakah Islam mengenal partai politik?

Seperti kita tau saat ini, di Indonesia sudah berdiri lebih dari 180 partai, lebih dari 140 di antaranya mendaftar ikut pemilu, dan 48 di antaranya lolos ikut pemilu.

Nah, sementara ini, saya bagi seorang individu, jika diminta langsung mengubah dasar negara Pancasila/UUD'45 ini dengan Al-Qur'an atau yang sesuai dengan Daulah, tanpa kekuasaan tampaknya mustahil. Bagaimana menyikapi pemilu nantinya? Apakah ada partai yang di mata Islam layak untuk dipilih?

Di antara partai-partai itu banyak sekali yang menurut saya pribadi, sedikit banyak membawa-bawa agama Islam, namun tampaknya tidak sebagai dasarnya. Entah sebagai apanya. Mungkin karena dangkalnya ilmu politik saya.

Juga, bagaimana sistem kepartaian di masa Rasulullah? Apakah dulu dikenal oposisi?

Terima kasih

Best regards,

Firza
firza@jember.wasantara.net.id
-------