Stockholm, 23 Mei 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KESALAHAN FATAL YUDHOYONO SAMAKAN NEGARA PANCASILA DENGAN NEGARA RELIGIUS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KESALAHAN FATAL SUSILO BAMBANG YUDHOYONO SAMAKAN NEGARA PANCASILA DENGAN NEGARA RELIGIUS

"Tingkat kriminalitas termasuk korupsi di Indonesia yang disebut negara religius ternyata sangat tinggi. Momentum peringatan hari keagamaan harus menjadi pondasi moral pemeluknya dan bangsa." (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Peringatan Tri Suci Waisak Nasional 2005 di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin, 23 Mei 2005)

Presiden Negara Pancasila ini tidak bisa membedakan mana itu Negara Pancasila dan mana itu Negara Agama atau Negara Religius. Sehingga ketika muncul jamaah koruptor, itu Presiden Negara Pancasila Susilo Bambang Yudhoyono merasa heran, dan celakanya disinggungkan dengan Negara Religius.

Rupanya, itu mbah Susilo Bambang Yudhoyono telah menyamakan Negara Pancasila dengan Negara Religius. Kan salah kaprah penyamaan yang dibuat oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono ini. Mengapa ?

Masa Negara Pancasila yang dasar dan sumber hukum negaranya mengacu kepada pancasila hasil kutak-katik mbah Soekarno disamakan dengan Negara Religius atau Negara Agama atau Negara yang dasar dan sumber hukum negara-nya mengacu kepada Agama.

Rupanya mbah Susilo Bambang Yudhoyono sampai detik ini tidak mengerti bahwa Negara yang dipimpinnya itu Negara Pancasila. Sehingga ketika menghadiri Peringatan Tri Suci Waisak Nasional 2005 di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin, 23 Mei 2005, langsung saja celoteh bahwa tingkat kriminalitas termasuk korupsi di Indonesia yang disebut negara religius ternyata sangat tinggi.

Coba perhatikan, itu Negara Pancasila disebut dengan Negara Religius oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono. Kan salah kaprah. Itu pancasila hasil kutak-katik dan hasil perasan mbah Soekarno dari berbagai ideologi disamakan dengan nilai-nilai dan aturan-aturan hukum yang ada dalam Agama.

Sebenarnya kalau mbah Susilo Bambang Yudhoyono mengerti bahwa Negara yang dipimpinnya adalah negara Pancasila, maka tidak akan heran kalau banyak rakyatnya masuk kedalam jamaah koruptor seperti jamaah koruptor KPU atau yang dinamakan jamaah koruptor Komisi Pemilihan Umum-nya Nazaruddin Sjamsuddin dan Hamid Awaluddin.

Ya, jelas, namanya saja Negara Pancasila, mana ada itu dasar dan sumber hukum Negara Pancasila mengacu kepada apa yang diturunkan Allah SWT dan yang dicontohkan Rasulullah saw. Paling itu hanya mengacu kepada ampas-ampas ideologi hasil kumpulan mbah Soekarno yang menjadi ideologi marhaenisme-nya dan menggumpal menjadi pancasila.

Jadi, memang wajar, kalau di Negara Pancasila banyak bermunculan jamaah koruptor model KPU-nya Nazaruddin Sjamsuddin dan Hamid Awaluddin.

Dan sebenarnya itu mbah Susilo Bambang Yudhoyono tidak perlu heran, mengapa di Negara Pancasila yang dipimpinnya bertebaran jamaah-jamaah koruptor seperti jamur dimusim hujan.

Jangan seenaknya itu mbah Susilo Bambang Yudhoyono mengklaim bahwa Negara sekuler pancasila RI disamakan dengan Negara Religius. Ini salah kaprah jadinya.

Kemudian itu yang dikatakan mbah Susilo Bambang Yudhoyono dengan "pemerintah menjamin kelangsungan hidup bagi pemeluk agama apa pun dan kepercayaan yang ada di Tanah Air. Ini merupakan wujud Kebhinekaan".

Nah, itu yang dimaksud dengan wujud kebhinekaan adalah bentuk wujud sekuler. Itu bhineka model mpu Tantular dengan Sutasoma-nya. Artinya bermacam ragam dari berbagai aliran dan agama yang ada dan hidup di Negara Pancasila, yang diberikan kebebasan hidup sebagaimana kebebasan hidup di Negara Sekuler.

Atau dengan kata lain, yang dnamakan Negara Pancasila adalah Negara yang didalamnya mengacu kepada kebebasan dan kebhinekaan model mpu Tantular dari kerajaan Hindu Majapahit.

Jadi, salah kaprah kalau mbah Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa Negara Pancasila adalah Negara Religius. Karena itu memang tidak heran kalau belakangan ini tumbuh subur kelompok atau jamaah koruptor di bumi Negara Pancasila model mpu Tantular dengan bhineka tunggal ika-nya. Karena memang dasar yang dijadikan fondasi Negara Pancasila adalah ampas perasan dari ideologi hasil kumpulan mbah Soekarno yang menggumpal menjadi pancasila.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
www.ahmad-sudirman.com
ahmad@dataphone.se
----------

Presiden Heran Indonesia Negara Religius Tapi Korup

24/5/2005 01:30 - Meski disebut negara religius, Presiden Yudhoyono merasa heran tingkat kriminalitas dan korupsi di Indonesia tinggi. Hal itu disampaikan saat menghadiri peringatan Tri Suci Waisak Nasional 2005.

Liputan6.com, Magelang: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa heran tingkat kriminalitas termasuk korupsi di Indonesia yang disebut negara religius ternyata sangat tinggi. Karena itulah, Yudhoyono menambahkan momentum peringatan hari keagamaan harus menjadi pondasi moral pemeluknya dan bangsa. Demikian petikan pidato Presiden saat menghadiri peringatan Tri Suci Waisak Nasional 2005 di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (23/5) malam.

Presiden selanjutnya menegaskan, pemerintah menjamin kelangsungan hidup bagi pemeluk agama apa pun dan kepercayaan yang ada di Tanah Air. Ini merupakan wujud Kebhinekaan sekaligus bentuk penghormatan kepada demokrasi.

Puncak peringatan Waisak selain dihadiri Presiden juga diikuti ribuan umat Buddha dari seluruh Indonesia. Perwakilan umat Buddha dari Jepang, Thailand, dan Myanmar juga datang. Mereka berkumpul untuk mengikuti prosesi menyambut detik-detik Waisak 2549, sekitar pukul 03.17.18 WIB [baca: Malam Ini Puncak Tri Suci Waisak 2005].(KEN/Wiwik Susilo)

http://www.liputan6.com/fullnews/102100.html
---------